Peserta pelatihannya diajarkan mengolah limbah untuk mengurangi buangan sampah. “Kalau motifnya untuk penghasilan, ketika barang tak laku mereka akan berhenti,” kata dia. Tutik menekankan pentingnya ibu rumah tangga dan anak-anaknya berkreasi dengan limbah yang dihasilkan.
Setidaknya barang tersebut bisa dipakai untuk keperluan sendiri. Kreasi yang unik atau bagus hasil karya peserta atau kelompok pelatihan lainnya, kata Tutik, sanggup diproduksi banyak untuk memenuhi pesanan dan menghasilkan uang.
Tutik yang menyebut dirinya sebagai petani sampah, juga berkreasi dengan dedaunan tua atau yang berguguran. Lebih dari sekadar limbah organik atau pupuk alami, dedaunan tua itu masih punya potensi ekonomi yang lain. Dengan pengolahan khusus, daun tersebut bisa diolah menjadi tinggal kerangkanya saja (skeleton leaves). “Di Jepang disebut happa yang artinya daun,” katanya.
Tutik telah menggeluti pengolahan happa selama empat tahun. Happa di tangan Tutik, sebagian dirangkai menjadi buket, serta media melukis. Kerangka daun itu juga bisa diwarnai dengan zat pewarna tekstil dan digambar. Setangkai rangkaian kerangka daun itu umum dijual sekitar Rp 15 ribu. Sebagian menjadi hiasan gelas maupun stoples. Istimewanya, happa buatannya telah diekspor ke Jepang. “Permintaan minimal 300 sampai 3.000 lembar sekali kirim,” katanya. Per lembar dihargainya Rp 2.000.
Tutik membuat happa dengan cara alami. Resepnya berasal dari pelajaran sekolah dulu. Di halaman rumah, dia menyiapkan bak khusus berisi lumpur untuk mengubur dedaunan mati. Setiap empat hari sekali dia memanen hasilnya. “Peneliti dari Jepang tertarik karena hasilnya bisa cepat,” ujarnya.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar